Selasa, 02 Desember 2008

Makanan Untuk Memperkuat Sistem Imun


Setiap makanan yang memperkuat sistem imun Anda adalah makanan yang disebut sebagai "power food." Dengan sistem imun yang kuat, tubuh lebih mudah melindungi dirinya sendiri dari bahaya infeksi bakteri dan virus serta melawan ancaman kanker.

Power Food 1: Yoghurt

Yogurt mendapatkan reputasi baik sebagai "obat tradisional" yang membuat orang tetap awet muda. Terdapat bukti ilmiah tentang hal ini karena yoghurt dapat memperkuat fungsi sistem kekebalan tubuh.

Pada tahun 1908 seorang peneliti bernama E Metchnikoff membuat hipotesis spektakuler. Dikatakan bahwa ada hubungan erat antara umur panjang masyarakat pegunungan di Bulgaria dengan kebiasaan mereka mengonsumsi susu fermentasi. Kendati data empiris yang ada masih terbatas, hipotesis tersebut dianggap menarik untuk dikaji dan diungkap lebih lanjut. Metchnikoff sendiri akhirnya diberi penghargaan Nobel dan sejak saat itu produk susu fermentasi terus dikembangkan dan diteliti.

Di Indonesia, yoghurt banyak dipasarkan di supermarket dalam bentuk minuman encer hingga kental yang dikemas di dalam botol plastik. Pada umumnya untuk menambah daya tarik dan kesehatan, ke dalam yoghurt ditambahkan flavor buah-buahan.

Konsumsi yoghurt diketahui mampu menurunkan kolesterol darah, maka kesehatan pembuluh darah dan jantung terjaga. Yoghurt juga memberi kondisi mikroflora yang baik dalam saluran pencernaan berarti beberapa penyakit dapat dihindari atau dicegah.

Efek positif lain dari yoghurt ditunjukkan melalui kemampuannya mereduksi kanker saluran pencernaan. Diduga, adanya senyawa karsinogenik seperti nitrosamin yang masuk ke pencernaan dicegah penyerapannya oleh bakteri yang membentuk selaput protein dan vitamin. Akibatnya nitrosamin tersebut tidak dapat diserap dan dikeluarkan dari tubuh bersama tinja.

Dari segi gizi, yoghurt merupakan produk makanan yang kaya akan zat gizi. Komposisi zat gizinya mirip susu dan bahkan ada beberapa komponen seperti vitamin B kompleks, kalsium, dan protein justru kandungannya relatif tinggi.

Oleh karena itu, baik secara langsung maupun tidak langsung konsumsi yoghurt secara teratur dan proporsional ikut berperan menunjang umur panjang seseorang.

Hanya dua cangkir yoghurt setiap hari selama periode empat bulan akan memberikan keuntungan ini bagi Anda. Riset telah menunjukkan yoghurt meningkatkan kekuatan Sel NK untuk melawan sel kanker, terutama kanker paru-paru dan kanker kolon.

Power Food II: Bawang Putih

Meski baunya bisa menyusahkan penggemarnya dalam pergaulan, jangan abaikan khasiat bawang. Bawang terbukti menurunkan risiko para pria terkena kanker prostat.

Pria yang mengonsumsi keluarga bawang-bawangan hingga 10 gram sehari, risikonya terkena kanker prostat 50 persen lebih rendah dibanding mereka yang mengonsumsi lebih sedikit.

Beberapa penelitian dengan metode case control study - membandingkan pola makan pasien kanker dengan mereka yang sehat- sudah menunjukkan bahwa sayuran yang tergolong dalam keluarga Alliaceae menurunkan risiko kanker usus, esofagus, payudara, dan endometrium.

Dalam riset yang pernah dipublikasikan di American Journal of Clinical Nutrition disebutkan bahwa bawang putih juga berkhasiat menurunkan kolesterol. Pemberian 7,2 gram ekstrak bawang putih setiap hari selama enam bulan pada 56 pria yang berkadar kolesterol tinggi berhasil menurunkan kolesterol mereka hingga tujuh persen.

Sementara, hasil pengujian pada para pasien dengan riwayat penyakit jantung menunjukkan, konsumsi bawang putih meningkatkan aktivitas fibrinolitik dan mengurangi kecenderungan pembentukan bekuan darah dalam pembuluh darah. Pengurangan bekuan darah menurunkan risiko terjadinya sumbatan-sumbatan di arteri jantung sehingga mengurangi risiko terjadinya serangan jantung.

Jika Anda tidak menyukai bau bawang putih, jangan takut. Anda dapat memperoleh efek yang sama dari ekstrak bawang putih yang bebas dari bau tersebut.

Power Food III: Jamur Shiitake

Shiitake atau jamur shii (Jepang) juga dikenal dengan nama hioko, donko, shiang-gu, shiang-ku di Cina dan Korea.

Di Hongkong dan Singapura, jamur jenis ini dikenal sebagai chinese black mushroom. Di Indonesia dikenal dengan nama jamur kayu cokelat atau secara umum disebut jamur shiitake saja.

Anda sering menemukan jamur yang lezat ini dalam masakan Cina, dimasak bersama sayuran eksotik lainnya. Tetapi apakah Anda membeli di restoran tersebut ataukah memasaknya sendiri di rumah, jamur luar biasa ini (menurut sejumlah penelitian riset) mengandung substansi yang dinamakan lentinan. Kandungan senyawa ini sudah diakui sejak lama khususnya di kawasan Cina, Taiwan, Korea, Vietnam, Jepang, dapat dimanfaatkan untuk penurun gula dan kolesterol darah.

Sementara hasil penelitian di lingkungan National Cancer Center Institute di Tokyo, Jepang, Eropa dan Amerika Serikat menunjukkan, ekstrak jamur shiitake memiliki kemampuan menghambat pertumbuhan tumor antara 72-92 persen, sarcoma sekitar 81 persen.

Tak hanya itu, Dr KW Cochran dari Universitas Michigan, Amerika Serikat, tahun 1974 mempublikasikan khasiat jamur shiitake yang sudah sejak lama diketahui mempunyai peran di dalam penurun gula dan kolesterol darah, juga sebagai antikanker dan antitumor.

Dalam jamur shiitake selain protein, niasin, thiamin, riboflavin, serta sederet mineral, juga terdapat lentinan yaitu polysakharida yang larut di dalam air, yang sejak lama diakui memiliki kemampuan sebagai antitumor dan antikanker.

Pada jamur shiitake, kandungan lentinan tertinggi akan didapatkan pada bagian batang dekat tudung dan bagian tudungnya. Sedang batang lainnya, umumnya merupakan makanan kaya serat yang sangat bermanfaat untuk mencegah terjadinya kanker usus.

Manfaat lentinan terhadap penghambatan virus HIV-AIDS, walau di Jepang sudah diakui secara positif, tetapi pada beberapa percobaan di lembaga-lembaga kanker AS, belum meyakinkan.

Walau produk jamur shiitake hasil olahan banyak beredar dalam bentuk pil, kapsul atau pun serbuk untuk campuran bahan lain, tetapi sangat dianjurkan penggunaan dalam bentuk segar atau dimasak menjadi sayur.

Power Food IV: Beta-Karoten dalam Buah dan Sayuran

Beta karoten, zat yang terkandung dalam wortel, pepaya, sayur-mayur yang berwarna kemerahan, dan minyak kelapa sawit, dalam berbagai penelitian terbukti dapat menekan pertumbuhan tumor dan dapat meningkatkan respons imun.

Senyawa ini tergolong aman bagi tubuh bila terasup dalam jumlah yang melebihi kebutuhan tubuh, karena kelebihan ini akan terbuang melalui urin, sedangkan kelebihan vitamin A akan terakumulasi dalam hati.

Mengonsumsi beta karoten baik berupa makanan maupun suplemen akan memberi efek positif bagi pencegahan tumor maupun menekan atau membunuh tumor yang telah ada dalam tubuh.

Hal ini dibuktikan dalam penelitian yang pernah dilakukan di antaranya oleh J Schwartz pada 1986. Penelitian tersebut menunjukkan pemberian beta karoten pada hewan percobaan meningkatkan kemampuan limfosit T dan B serta makrofag untuk membunuh sel tumor dan meningkatkan produksi faktor nekrosis tumor yang dapat langsung membunuh sel tumor.

Karena itu, dapat ditarik kesimpulan bahwa beta karoten mempunyai efek kemoterapi atau kemopreventif dengan meningkatkan respons imun, sebab status imunitas yang baik akan menghancurkan sel tumor.

Power Food V: Makanan yang Mengandung Mineral Seng

Seng (Zn) adalah zat gizi esensial yang harus diakui belum sepopuler zat gizi utama seperti karbohidrat, protein atau lemak.

Meski termasuk dalam kelompok mikromineral - diperlukan dalam jumlah sangat sedikit - seng tak bisa diremehkan peranannya karena tak kurang dari 200 metalloenzim sangat tergantung padanya. Dengan kata lain seng sangat luas peranannya, terutama dalam hubungannya dengan berbagai penyakit akibat lemahnya pertahanan tubuh.

Seng juga dihubungkan dengan kasus bibir sumbing, akibat kurangnya asupan seng pada saat kehamilan. Ini memang merupakan pandangan baru karena selama ini bibir sumbing lebih sering dikaitkan dengan faktor keturunan.

Seng berdasarkan hasil berbagai riset di banyak negara memperlihatkan pengaruhnya terhadap pertumbuhan fisik maupun fungsi seksual. Aggest dan Prasad melaporkan bahwa kekurangan seng bisa menyebabkan anak pendek badannya, sementara Halsted menemukan kasus kuku cekung serupa sendok (koilonikia) akibat kekurangan seng.

Defisiensi seng oleh berbagai riset yang lain juga dilaporkan dapat mengurangi daya konsentrasi (mudah mengantuk), mengurangi daya penyembuhan luka, ketajaman pengecap, kulit kering dan kasar, anemia, berat badan merosot dan masih banyak lagi.

Yang menarik adalah dikaitkannya antara defisiensi seng dengan insiden kanker kulit luar dan leher. Menurut temuan , itu ada kaitannya dengan rendahnya kadar seng akibat asupan makanan berkadar seng rendah.

Oleh sebab itu upayakanlah asupan seng secara memadai sejak dini. Makanan sehari-hari terbaik yang dapat mencukupi kebutuhan seng berasal dari hewan. Daging ayam misalnya, mengandung sekitar 1 - 3 mg/100 gram bahan basah, sedangkan sapi lebih tinggi: 5 - 6 mg. Bandingkan dengan kebutuhan seng harian yang hanya 2,2 mg (dewasa), 2,2 - 2,8 mg (remaja), 1,6 mg (anak-anak).

Meskipun relatif sedikit jumlah yang diperlukan, tapi perlu konsumsi makanan dalam jumlah sekian kali lipat dari seng yang dikandung, mengingat daya serap tubuh terhadap seng relatif rendah. Seng dari bahan nabati berdaya serap lebih rendah, sehingga banyak kasus defisiensi terjadi pada pemakan serealia (biji-bijian) yang tidak diimbangi dengan konsumsi bahan hewani. [Sumber].

Tidak ada komentar: